Indonesia Bangsa Pembaharu: donasi | Informasi Dunia Maya Terkini
Headlines News :






Subscribe me

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Latest Post
Showing posts with label donasi. Show all posts
Showing posts with label donasi. Show all posts

Monday, 17 December 2012

Wirausahawan, Pemimpin Pembawa Perubahan


Pembukaan Global Enterpreneurship Week 2012
Jakarta. Para wirausahawan (enterpreneurs) adalah para pemimpin bangsa yang membawa perubahan dan pembaharuan. Peran mereka sangat strategis dalam pembangunan ekonomi. Bahkan sesungguhnya, peran kewirausahaan sangat dibutuhkan di berbagai bidang untuk melakukan pembaharuan di negeri ini.

Demikian Wakil Presiden Boediono mengatakan saat memberikan sambutan dalam pembukaan Global Enterpreneurship Week (GEW) 2012 di Bank Indonesia, 12 November 2012. "Saya sendiri bukan enterpreneur, karena sejak awal selalu berkecimpung di sektor publik. Tapi karena saya akademisi yang mempelajari pembangunan ekonomi di berbagai negara, saya mengerti sekali peran strategis para wirausahawan ini, mereka champion yang melakukan perubahan," kata Wapres Boediono.

Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dan para pendukung kegiatan Global Enterpreneurship Week antara lain tokoh GEW Indonesia Ciputra dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Mark Canning serta Kauffman Foundation dari Amerika Serikat.

Wapres Boediono mengakui bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia masih kecil, yakni hanya 1.56 % penduduk yang bisa dikategorikan sebagai wirausaha. Untuk kategori yang sama, Malaysia mencatat angka 4, Thailand 4.51 dan Singapura 7.2. "Ini baru menyangkut kuantitas. Dari segi kualitas belum tercermin di angka-angka itu. Tapi kalau kita lihat potensi wirausahawan kita, mustinya bisa lebih dari itu karena dari sektor informal saja kita lihat banyak yang berusaha atas resiko sendiri. Kalau untung ya dapat untung, kalau rugi ya menanggung rugi sendiri. Jadi kalau dari segi kualitas kita tidak kurang," katanya.

Menurut Wapres, demi mengembangkan kewirausahaan ada sejumlah tantangan yang masih harus dihadapi. Tantangan tersebut tentu saja bersinggungan dengan unit-unit bisnis yang menjadi wadah dari para wirausahawan tersebut. Terdapat enam kategori yang sering diasosiasikan sebagai handicap dalam mewujudkan unit bisnis, yakni: (1) masalah penegakkan hukum sebagai masalah fundamental karena wirausahawan mustahil bisa mengembangkan usaha di suatu daerah yang masih terganggu keamanannya, (2) pertumbuhan makro ekonomi yang stabil. Sikap konservatif fiskal yang prudence adalah opsi terbaik dalam kondisi ekonomi global yang serba tidak pasti. "Kalau makro-nya seperti yoyo atau roller coaster, maka orang yang bisa usaha hanya mereka yang sangat pandai atau sangat spekulatif. Yang produktif normal akan mundur," kata Wapres.

Kategori tantangan (3) adalah masalah infrastruktur yang memiliki dampak besar bagi wirausahawan karena kebanyakan transaksi ekonomi pasti mencantumkan komponen biaya transportasi. Studi Bank Dunia beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa investasi di luar perkotaan sangat dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya infrastruktur dasar yang memadai.

(4) Regulasi dan aturan yang bisa mendukung atau sebaliknya justru menghambat wirausaha, terutama dalam era otonomi daerah ketika pemerintah daerah mengeluarkan aturan-aturan yang berpengaruh langsung pada pengembangan wirausaha,

(5) Tersedianya layanan finansial bagi bisnis mikro maupun makro karena hal ini akan mempengaruhi pengembangan suatu bisnis. "Dalam hal ini para perumus kebijakan sedang berusaha menjabarkan lebih jauh konsep financial inclusion karena dari situ bisa terjaring calon-calon wirausahawan muda," kata Wapres.

Dan yang terakhir (6) adalah masalah tenaga kerja yang terlatih dan terampil yang sangat dibutuhkan oleh pengembangan industri.

Untuk menjawab yang terakhir, Wapres Boediono mengajak kalangan swasta dan perbankan untuk terus menerus melakukan program pelatihan kewirausahaan dan mentoring. Wapres juga meminta agar para pelaku pelatihan dan mentoring dari berbagai kalangan bisa bersinergi dan bergabung dalam sebuah forum komunikasi demi mencapai tujuan bersama yakni pengembangan kewirausahaan secara nasional.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dukungan Bank Indonesia (BI) terhadap kampanye Global Enterpreneurship Week yang dimulai di Amerika Serikat dan Inggris ini adalah upaya BI untuk memaksimalkan momen pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang tercatat sebagai salah satu yang paling stabil di dunia, seperti yang baru-baru ini dikutip majalah The Economist.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil tersebut, kata Gubernur BI, disokong oleh konsumsi dalam negeri dan investasi. Dari data yang dipublikasi 2-3 tahun belakangan, investasi yang masuk ditujukan untuk memenuhi pasar dalam negeri yang dinamis. “Karena itu maka enterpreneur dalam negeri mestinya lebih mudah menjangkaunya,” kata Wapres.

Gubernur BI meminta kalangan swasta untuk menggunakan dana tanggungjawab sosialnya untuk pengembangan potensi, pelatihan dan mentoring keriwausahaan. Kampanye GEW pertamakali diselenggarakan 2007 melalui Enterpreneurship USA, lalu enterprise UK 2008. Tahun ini kampanye GEW akan digelar di 125 negara termasuk Indonesia, dimana selain Bank Indonesia, terdapat lagi bank sentral negara lain yang terlibat yakni dari Afrika Selatan.

Dalam kampanye GEW ini BI melakukan program kerja penciptaan wirasauhawan baru di tujuh kantor BI antara lain Surabaya, Bandung, Makassar, Semarang, Palembang dan Yogya dengan target kelompok mahasiswa dan mantan Tenaga Kerja Indonseia (TKI). Pelatihan juga dilakukan di Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dari 1570 peserta, terdapat 243 yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan. Terdapat pula talkshow dan pelatihan kewirausahaan di salah satu pesantren di Jawa Timur.

BI juga melakukan penyertaan modal seed capital kepada perwakilan peserta terbaik program wirausaha dengan total nilai Rp 3 Miliar dari anggaran program sosial BI yang diserahkan oleh Wapres Boediono

Sumber: http://goo.gl/4Fz5U

John Rahail: Sekolah Kampung untuk Masa Depan Papua

MASIH sedikit sumber daya manusia yang terampil dan memiliki pengetahuan cukup di Papua, sementara kekayaan alam yang melimpah di sana belum bisa diolah oleh putra-putri provinsi tertimur Indonesia itu. Sebaliknya, banyak investor asing yang menguasai kekayaan alam di sana. 

Rendahnya sumber daya manusia yang berkualitas menjadi perhatian serius John Rahail, 45, dosen di Universitas Cendrawasih, Papua. 

Menurutnya, mayoritas masyarakat Papua belum menganggap pendidikan sebagai kebutuhan yang cukup penting. 

Melalui lembaga yang dibentuknya, Institute of Community Development and Emporwerment (ICDP), John mendirikan sekolah kampung yang diberi nama Maju Bersama, di pantai timur Desa Beneraf, Kabupaten Sarmi.

Sejak 2007 ia mulai mengembangkan konsep pendidikan berbasis kearifan lokal yang terintegrasi. John mengemas kurikulum pendidikan dengan mendekatkan anak-anak dengan lingkungan. 

''Kegiatan belajar mengajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Bisa di rumah adat, balai kampung, pinggir sungai, atau di atas pasir. Mereka belajar di bawah pohon dengan beralaskan terpal. Sekolah unik ini merupakan yang pertama di Papua,'' terang John. 

Dia menginginkan anak-anak Papua bisa membangun kepercayaan diri, mencintai sekolah, dan senang belajar. ''Karena selama ini masyarakat Papua masih menganggap masalah pendidikan kurang penting,'' imbuhnya. 

Sekolah kampung yang didirikan itu ditujukan untuk anak-anak usia dini, mulai 3 hingga 5 tahun. Saat ini sebanyak 50 anak belajar di sana. 

Sekolah kampung tersebut hanya memiliki satu bangunan yang digunakan sebagai ruang kelas dan diisi dengan peralatan seadanya. Anak-anak duduk di lantai. Di hadapan mereka ada bangku panjang yang berfungsi sebagai meja. 

Di kelas sederhana itu anak-anak bebas bermain dan belajar mengenal warna, benda, gambar, dan lainnya dengan perasaan gembira. 

John memang sengaja mengajak anak-anak balita itu untuk mengenal huruf, angka, warna, serta permainan edukatif lainnya. Kegiatan belajar mengajar di sekolah kampung itu hanya diadakan tiga kali dalam seminggu. 

Untuk bersekolah di sana, orangtua siswa tidak dipungut biaya alias gratis. 

''Ini sangat membantu cara berpikir mereka dari berbagai sisi. Biasanya anak-anak itu jarang mandi. Tapi, sejak ikut sekolah kampung, mereka mandi secara teratur,'' terang John setelah melihat kemajuan anak-anak didiknya. 

Pendidikan usia dini bagi anak-anak Papua memang cukup strategis untuk menumbuhkan cinta kepada dunia pendidikan. Nantinya saat memasuki jenjang sekolah formal, anak-anak sudah bisa membaca dan menulis. 

Pasalnya, lanjut John, di Papua ada anak usia SMP belum bisa membaca. Hal itu diperparah dengan minimnya komunikasi antara anak dan orangtua di rumah menyangkut kegiatan belajar di sekolah. 

''Ada mata rantai yang hilang dalam pembangunan pendidikan di Papua. Proses pendidikan anak dalam keluarga tidak dipersiapkan untuk masuk sekolah formal. Mereka hanya dikenalkan tentang alam dan lingkungan,'' jelasnya. 

John pun kerap menemui kasus anak hanya masuk sekolah satu hari, kemudian selama sebulan bolos sekolah. Mereka malas melanjutkan sekolah dan lebih memilih membantu orangtua berladang. 

''Ada sebuah cara pandang masyarakat Papua tentang pendidikan. Proses belajar di sekolah dipandang sebagai beban, sesuatu yang menakutkan, keterpaksaan, dan kebiasaan yang memengaruhi tingkat partisipasi anak dalam kehadiran dan proses belajar di sekolah.'' 

Untuk itu, pendirian sekolah kampung bisa menjembatani kendala-kendala yang dihadapi anak saat memasuki jenjang sekolah dasar. 


Penuh kendala 

Membangun sekolah kampung bukan tanpa kendala. Masyarakat tidak sepenuhnya mendukung program cemerlang milik John ini. Masyarakat saat itu menganggap bersekolah hanya membuang waktu. Anak-anak yang sekolah belum tentu langsung kerja dan mendapatkan uang. ''Sekolah hanya untuk anak kota. Orang desa tidak perlu sekolah, buang-buang waktu saja'' jelasnya. 

Saat didirikan di Desa Beneraf, sekolah kampung mendapat respons negatif dari warga sekitar. John sempat diusir warga yang tidak setuju dengan kehadiran sekolah tersebut. 

''Awalnya masyarakat beranggapan bahwa kami hanya mengedepankan mimpi-mimpi daripada kenyataan. Alasan mereka adalah sekolah formal yang memiliki gedung dan guru PNS saja tidak serius, apalagi model sekolah kampung yang hanya mengedepankan partisipasi masyarakat seperti ini,'' ungkapnya. 

Sebagai putra asli Papua, John sangat menyadari permasalahan pendidikan yang terjadi di tanah leluhurnya. Walaupun hampir di setiap distrik dan kampung terdapat gedung sekolah dan aktivitas belajar pendidikan dasar, itu tidak menjamin semua anak usia sekolah berpartisipasi. 

Angka partisipasi murni (APM) anak-anak sekolah masih rendah. Siswa yang belajar aktif setiap hari di wilayah pinggiran dan kampung hanya 40%. 

Dengan kondisi itu, John kemudian memaksimalkan potensi tenaga pengajar lokal dengan merekrut empat pemuda lulusan SMP dan SMA untuk mengajar di sekolah 
kampung tersebut. 

Pria kelahiran Merauke ini mengajak empat pemuda tersebut untuk membimbing anak-anak di dalam suku maupun sub-subnya untuk mengenal dunia pendidikan. 

Di dalam adat masyarakat Papua, terdapat sub-subsuku. Setiap marga memiliki tugas dari subsukunya. Ada yang bertugas mengawasi laut, berperang, serta menjaga keselamatan warga dari perang suku dan binatang buas. ''Nah belum ada subpendidikan. Kami masuk di situ, dan empat pemuda itu memang telah direkomendasikan oleh kepala suku untuk membimbing generasi muda di desa mereka melalui pendidikan,'' ungkap John. 

Dalam tiga tahun terakhir, lulusan sekolah kampung ternyata banyak diterima di sekolah dasar, dengan alasan mereka siap memasuki jenjang pendidikan. Anak-anak memiliki banyak pengetahuan serta mampu beradaptasi dan berpartisipasi. 

Kini tidak hanya balita yang menuntut ilmu di sekolah kampung. Ibu-ibu yang masih buta huruf mulai bergabung untuk belajar membaca di sekolah tersebut. Biasanya mereka menyempatkan belajar membaca saat menunggui anak di sekolah. Sebuah usaha cerdas yang berbuah manis. (N-3)

Sumber: http://goo.gl/ymjjF

Deka Kurniawan – Terapi dan pendidikan bagi anak autis dhuafa

Deka Kurniawan menangani permasalahan anak autis miskin adalah dengan mengembangkan kerjasama yang baik, salah satunya dengan mengembangkan advokasi yang memungkinkan negara, dan masyarakat untuk menangani masalah ini secara kolektif dan melakukan gerakan di kalangan profesional untuk memberikan pelayanan langsung untuk anak-anak autis miskin. Rumah Autis diciptakan dengan memiliki kata kunci "EPOS" sebagai budaya kerja, secara harfiah berarti Energi Positif. Rumah Autis diperuntukkan bagi publik untuk mengisi kesenjangan dimana tidak ada lembaga tunggal yang benar-benar bekerja untuk menangani anak autis miskin serius dan profesional.

Cara Rumah Autis menangani masalah ini lebih sistemik dan integral. Tidak hanya memberikan pengobatan untuk anak-anak autis sendiri, tetapi juga berurusan dengan orang tua mereka. Pemberdayaan dilakukan secara bersamaan, baik di sekolah dan di rumah. Rumah Autis membekali mereka motivasi spiritual, terapi serta pelatihan yang berhubungan dengan perkembangan anak-anak autis. Hal yang sama dilakukan dengan baik oleh para relawan dan donor. Mereka secara khusus diberikan program intensif untuk membangun dan memelihara jiwa manusia, semangat cinta dan ketulusan dan kesabaran dalam terlibat dengan anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Dalam proses mengelola penggalangan dana, yang terus diterapkan Rumah Autis dan yang terus dikembangkan adalah kreativitas. Prinsip utama adalah "orang yang selalu berbagi selalu menerima kembali" dan "siapa bibit tanaman akan memilih hasilnya”. Kemudian, Rumah Autis juga mengembangkan usaha ekonomi mandiri dengan membuka unit usaha dan juga klinik kesehatan serta klinik-ramuan berbasis medis. Selain itu, Rumah Autis sedang melakukan program BRANKAS akhirat (harfiah berarti, Barang Digunakan untuk akhirat). Donasi dalam bentuk barang bekas (mungkin furnitur, elektronik, kendaraan, dll) yang kita gunakan untuk kepentingan Rumah Autis atau barang tersebut dijual kembali. Program ini cukup menarik banyak donor. Mereka menganggap hal tersebut sebagai solusi yang baik untuk menangani hal yang tidak terpakai di rumah mereka. Dan sebenarnya Rumah Autis memiliki cukup kreativitas untuk memperjuangkan uang untuk kepentingan anak-anak autis miskin

Dian Wahdini Syarief: Peraih Lifetime Achievement Award dari Kongres Lupus Internasional, Kanada


Di balik kelembutan dan ketenangannya, Dian menyimpan kegigihan dan ketegaran yang luar biasa menghadapi keganasan penyakit lupusnya yang kerap kambuh.
Ia kini mendarmakan waktunya untuk menolong sesama penderita lupus lainnya. Lifetime Achievement Award dari Kongres Lupus Internasional pun dianugerahkan kepadanya atas sumbangsihnya itu.
Senyum simpul selalu mengembang dari bibir wanita berkerudung ini. Secarik keteduhan pun selalu membayang di wajahnya. Semua ini berkat kepasrahan yang dilakoninya setelah penyakit lupus yang menyerangnya membuatnya kehilangan 95% penglihatannya, juga rahimnya.
Mantan Manajer Komunikasi Korporat Bank Bali ini divonis menderita penyakit lupus pada 1999. Dian yang dulu dikenal sebagai wanita karier yang ceria dan ramah, sehingga amat populer di kalangan wartawan perbankan, sempat merasa hidupnya terhenti di usia 34 tahun itu.
Namun, berkat daya juangnya yang tinggi, plus kesabaran dan kepasrahan, ia mampu menjalani puluhan kali terapi dan periode pengobatan yang panjang, melelahkan, menguras dana dan tenaga, serta sangat menyakitkan.
“Saya tidak pernah mimpi jadi orang buta. Tahun 1999 itu saya sering menangis karena tidak bisa melihat lagi,” ujar perempuan yang kini berusia 45 tahun ini terus terang.
Kini, selain masih berupaya melawan keganasan lupus yang sewaktu-waktu kambuh, ia mengelola yayasan yang ditujukan untuk membantu sesama penderita lupus lainnya, yakni Syamsi Dhuha Foundation.
Wanita bernama lengkap Dian Wahdini Syarief ini mengaku sebelum divonis sakit ia merasa dalam kondisi sehat. Sebelumnya, ia tidak pernah mengalami sakit yang berat. Bahkan karier sarjana farmasi dari Institut Teknologi Bandung (lulus 1990) ini sedang menanjak.
Namun, musibah tak ada yang menyangka. Bermula dari bintik-bintik merah pada suatu hari di bulan Ramadan 1999, siapa sangka itulah sinyal terjadinya pendarahan di kulit akibat serangan lupus (Systemic Lupus Erythematosus).
Putri pasangan dokter Prof. Dr. dr. Rudy Syarief dan dr. Oemmy R. Syarief, MMBAT ini mengungkapkan, awalnya ia mengira bintik-bintik merah itu sebagai masalah kulit biasa meskipun ia merasa ada keanehan karena wajahnya terlihat memucat.
Dokter yang ia datangi menyatakan bintik-bintik merah itu bukanlah penyakit kulit biasa meskipun Dian merasa sehat. Ia pun disarankan memeriksakan darahnya ke laboratorium. Setiba di rumah, Dian diberitahu petugas laboratorium bahwa kadar trombositnya tinggal 10%. Menjelang subuh, ia memutuskan dirawat di rumah sakit karena kata dokter jika trombositnya turun sedikit lagi, pembuluh darahnya akan pecah.
Barulah pada keesokan harinya, sumsum tulang belakang Dian diambil untuk dilakukan pengecekan ulang. Hasilnya adalah sesuatu yang mengubah drastis jalan hidupnya, yakni positif terserang lupus (walaupun ketika itu Dian mengaku tak begitu tahu apa itu lupus dan seberapa bahayanya penyakit ini).
Pada 1999 itu juga, karena kondisinya yang kian memburuk lantaran lupus menyerang otaknya, Dian harus menjalani 6 kali bedah otak yang berisiko lumpuh dan kehilangan ingatan. Pada tahun itu juga, Dian melakukan operasi pengangkatan empedu.
Lantaran tidak tahan dengan terapi hidrosteroid yang harus dijalaninya, ia pun kehilangan 95% penglihatannya. Inilah pukulan yang terberat yang dirasakan Dian. Namun sebagai seorang profesional di bank, Dian ingat dengan konsep positive thinking. Saat itu ia berusaha tetap berpikir positif meskipun merasa terpukul karena menjadi orang dengan low vision.
“Ketika saya tidak bisa melihat, saya positive thinking saja dan mengikuti pelatihan untuk dapat beraktivitas meskipun tidak lagi bisa melihat,” ujar wanita kelahiran Bandung, 21 Desember 1965, ini.
Dian pun belajar untuk hidup tanpa penglihatan. Ia belajar orientasi mobilitas dan huruf Braile seperti yang dipelajari orang buta pada umumnya. Namun, akhirnya ilmu membaca huruf Braile tersebut tidak ia gunakan.
“Braile lebih untuk melatih kepekaan. Ekspektasi saya sebagai orang yang pernah membaca normal adalah dapat membaca bacaan-bacaan yang sama dengan yang dibaca orang normal, misalnya Kompas. Jadi, saya lebih banyak minta dibacakan,” ujarnya.
Sebenarnya dua tahun setelah divonis menderita lupus, Dian sempat ditawari kembali bekerja di Bank Bali. Pihak Bank Bali tidak mempermasalahkan kondisi fisik Dian. Mereka masih berharap Dian dapat menjadi salah satu anggota think tank Bank Bali.
Namun tawaran tersebut ditolaknya, karena Dian merasa hidup yang ia jalani setelah divonis menderita lupus adalah bonus dari Tuhan. Terlebih setelah ia mampu bertahan meskipun telah mengalami 6 kali bedah otak. Karena itu, ia merasa sayang jika dirinya hanya mengerjakan hal yang sudah pernah dikerjakannya sebelum sakit.
“Kalau bekerja di perusahaan, itu kan lebih untuk perusahaan itu saja. Sedangkan saya ingin bekerja untuk banyak orang. Saya ingin bekerja untuk CEO of The Universe, yaitu Tuhan. Rasanya itu sesuai panggilan hati,” ujar Dian.
Menurut Dian, lima tahun pertama sakitnya lebih banyak ia gunakan untuk berjuang hidup. Saat itu ia banyak mengalami pendarahan dan peradangan. “Saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk operasi, terapi, konsultasi dan fisioterapi. Di tahun 1999 itu juga saya sempat tidak bisa jalan,” ujar wanita yang telah menjalani hampir 20 kali operasi sepanjang mengidap penyakitnya itu.
Kondisi kesehatan Dian baru lumayan stabil pada 2004. Pada tahun itu Dian mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Kehadiran yayasan ini merupakan wujud syukur Dian karena masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan.
“Saya ingin berbagi pengalaman, memfasilitasi orang lain, dan sebagainya. Inti SDF adalah pendampingan, memfasilitasi dan pemberdayaan,” ujarnya. Upayanya ini diapresiasi dunia. Baru-baru ini, ia memperoleh penghargaan Lifetime Achievement Award dari penyelenggara the 9th International Congress on Systemic Lupus Erythematosus di Vancouver, British Columbia, Kanada.

Di sini ia juga menjadi salah satu panelis dalam diskusi panel yang melibatkan tiga negara yaitu Kanada, Inggris dan Indonesia. Dian membawakan materi berjudul How to Make Friends with Lupus.
Di dalam negeri pun, Dian kerap dipanggil untuk sharing pengalaman dan motivasi di lingkungan odapus (orang dengan penyakit lupus) dan beberapa perusahaan.
Dalam perjuangannya menghadapi penyakit lupus, Dian mengaku mengalami dua kali depresi yang hebat, yaitu pada 2001 dan 2007. Tahun 2001, Dian merasa depresi karena merasa tidak kunjung sembuh dari penyakitnya.
“Sebenarnya saya semangat berobat dan terapi karena punya harapan ingin sembuh dan bisa melihat kembali. Tapi ketika hal itu tidak terjadi, saya pun menjadi down,” ujar wanita yang berobat hingga ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura ini.
Pada 2007, kondisi kesehatan Dian kembali menurun drastis dan ia harus keluar-masuk rumah sakit, padahal sebelumnya kondisinya sudah stabil. Saat itu ia tidak siap menerima kondisi fisiknya yang tiba-tiba menurun lagi.
Pada tahun itu Dian melakukan operasi radang rongga hidung, karena ia tidak dapat bernapas dengan baik hingga berbulan-bulan. “Tahun itu saya bernapas lewat mulut. Padahal kalau bernapas lewat mulut, saya batuk. Jadi saya tidak bisa tidur dan berat badan turun hingga 8 kg,” katanya menggambarkan penderitaannya.
Saat itu ia merasa agak trauma dengan pemeriksaan-pemeriksaan di rumah sakit. “Tahun itu sebenarnya kondisi fisik saya masih lebih baik dibandingkan tahun 1999. Namun, kondisi mental saya justru lebih buruk. Sebab, di tahun 1999 semangat saya untuk sehat kembali justru lebih besar,” ujarnya.
Menurut Dian, orang yang paling memberikan inspirasi baginya dalam menghadapi apa yang ia alami adalah ibunya sendiri. Ia menceritakan, saat masih kuliah di ITB, ibunya mengalami sakit kanker payudara hingga harus melakukan operasi pengangkatan payudara.
Saat itu Dian sering menunggui ibunya di rumah sakit. Ia lihat ibunya sangat tabah dan tidak mengeluh. Akhirnya, operasi tersebut berhasil dan ibu Dian pun sembuh dan masih segar-bugar hingga sekarang. “Ibu baru menangis setelah sadar dari operasi. Mungkin saat itu ia merasa sakit ya,” ujarnya.
Setelah kembali dari rumah sakit, ibu Dian tekun berlatih menggerakkan tubuhnya. Dari sini Dian belajar bahwa jika kita mengalami sakit seberat apa pun, kita tidak perlu menangis dan bersedih secara berlebihan. Semuanya dihadapi saja dengan tegar.
“Seberat apa pun kita harus ikhtiar, entah terapi, melatih diri atau apa pun, yang penting harus bangkit lagi. Akhirnya, ibu saya bisa melewati masa sulitnya,” ujarnya.
Selain ibunya, Dian pun memperoleh inspirasi dari kisah Helen Keller yang buta, tuli dan bisu.“Saya ini kan hanya tidak dapat melihat, tidak seperti dia (Helen) yang tidak bisa melihat, mendengar maupun bicara,” katanya.
Menurut Dian, dukungan suami, orang tua, dan sahabat-sahabatnya untuk dirinya pun sangat besar. Jika Dian harus menjalani operasi atau sedang merasakan sakit, suaminya biasa menghiburnya dengan mengatakan, ”Dosa kamu sedang dicuci”.
Sementara ayahnya pernah mengatakan, jika kita tidak bisa melihat dengan mata, nanti kita akan bisa “melihat” dengan indra yang lain. “Adapun ibu saya bilang, apa pun kondisi kamu, kamu harus tetap bisa bermanfaat buat diri kamu dan buat orang lain,” ujar anak kedua dari lima bersaudara ini. Karena itu, Dian tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya.
Saat ini, meski hidup bersama lupus, kegiatan rutin Dian lebih berwarna. Seperti orang normal lainnya, sekarang ia rutin berenang setidaknya seminggu sekali selama tidak dalam kondisi pasca-operasi.
Ia menyebutkan, berenang merupakan salah satu terapi terbaik untuk penderita lupus. Ia biasanya memilih kolam yang simpel, terutama yang pernah dikunjunginya saat ia masih bisa melihat.
“Saya biasa ambil posisi di pinggir agar tidak tertabrak pengguna kolam yang lain. Di situ saya berenang bolak-balik saja,” ujarnya. Ia juga masih sering melakukan hobinya memasak. Dian mengaku ia tetap dibantu untuk urusan yang satu ini.
“Saya mencampur bumbu, mencicipi, dan sebagainya. Tapi terkadang saya perlu diingatkan agar tidak terlalu mendekatkan wajah ke masakan,” ujarnya sambil tertawa. Ia kini juga menggunakan beberapa alat bantu dalam kesehariannya seperti telepon seluler yang dilengkapi software untuk menyuarakan SMS dan talking watch.
“Jadi saya bisa mendengar SMS, bukan membaca SMS,” kata wanita yang pernah menjadi penyiar radio semasa kuliah ini.
Bagi orang-orang yang mendapat cobaan seperti dirinya, Dian berpesan, kita semua harus menyadari bahwa hidup adalah karunia. “Kita sebagai manusia harus memanfaatkan setiap detik kehidupan kita. Karena itu, kita harus punya bekal yang cukup. Tidak mungkin kita diam saja kalau kita menyadari bahwa setiap detak jantung dan helaan napas kita itu luar biasa berharganya,” ujarnya.
Dian menekankan motivasi hidup itu terutama harus datang dari diri sendiri. Dan hal itu harus menjadi kekuatan dalam diri. “Orang lain itu hanya memotivasi kita. Kita juga harus punya tujuan hidup,” katanya.
Saat ini, Dian mengikuti tafakur setiap minggu. “Itu untuk mengisi spiritual. Manusia, bila fisiknya sedang sakit, bisa pergi ke dokter. Tapi siapakah yang dapat menyembuhkan jiwa yang sakit?” ujarnya lagi.
Sumber: SWAsembada, syamsidhuhafoundation.org

PROF. DR. F.G. WINARNO: Kualitas Pangan Tentukan Peradaban


Makanan tradisional merupakan kekayaan budaya yang tenggelam saat ini. Sayang, tak ada kebijakan negara yang mendorong bangsa Indonesia untuk lebih mencintai harta terpendam tersebut. Dalam pengamatan ahli rekayasa pangan Prof. F.G. Winarno, makanan tradisional memiliki nilai gizi yang lebih lengkap ketimbang makanan modern serta punya tingkat keragaman yang lebih baik.
Ironisnya, pintu masuknya makanan impor kini terbuka lebar, industri makanan dan minuman tradisional pun tergilas. Tak ada pemegang kekuasaan yang berpikir dan bertindak konsisten merumuskan strategi pangan.
Kepada Donny Iswandono dari Warisan Indonesia, Pak Win—demikian orang nomor satu pada Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia itu akrab dipanggil—menuturkan panjang lebar kegundahan hatinya serta obsesinya untuk menyelesaikan sebuah ensiklopedia makanan tradisional. Ia yakin budaya Indonesia bisa tumbuh kuat apabila kita mengerti makna filosofis dan kultural yang tersembunyi dalam makanan tradisional.
Bangsa Jepang punya kebiasaan makan yang membuat mereka jadi bangsa yang hebat. Kebiasaan makan setiap daerah berbeda, mungkinkah nenek moyang kita juga punya resep hebat?Kalau kita melihat banyak jenderal hebat datang dari wilayah Banyumas, seperti Sudirman, Soesilo Sudarman, (Supardjo Rustam, Ahmad Yani, Endriartono Sutarto, Red), saya selalu berpikir kenapa hal yang sama terjadi di China. Para jenderal hebat China berasal dari wilayah Sichuan. Hal itu mengundang saya untuk berpikir, kemungkinan ada tradisi makan yang membuat oran-gorang di kedua wilayah itu tumbuh sebagai manusia yang hebat.
Suatu saat, saya pernah diminta mengatasi wabah tempe bongkrek yang merenggut nyawa orang di kawasan Banyumas. Setelah kami bentuk tim peneliti untuk mengetahui sebab-sebab mengapa makanan tradisional itu tiba-tiba merenggut nyawa orang. Akhirnya, kami tahu bahwa ada kandungan bakteri yang tak baik untuk tubuh manusia dalam aliran Sungai Serayu (produsen tempe bongkrek banyak yang memanfaatkan airnya untuk mencuci, Red).
Sekarang makanan itu sepertinya tak lagi populer di masyarakat. Dan, kita tak lagi mendengar jenderal-jenderal kita berasal dari wilayah itu. Dugaan saya, di wilayah itu ada tradisi makan yang kuat sehingga banyak orang hebat tumbuh dari sana.
Lantas bagaimana sebaiknya mengembangkan strategi pangan?
Tentu banyak hal mesti kita perhatikan kebijakan lokal, kearifan lokal, yang sudah dimiliki bangsa ini. Kearifankearifan itu mesti kita gali lagi lantas kita terapkan sehingga menjadi budaya makan Indonesia yang aman.
Kebetulan saya sedang menyiapkan tulisan sendiri soal budaya makan. Saya mengawalinya dengan membahas terlebih dahulu apa itu budaya Indonesia. Saya mencoba menggali semua adat daerah sehingga akan ketemu bagaimana budaya membikin makanan yang aman dikonsumsi. Ternyata hal itu banyak sekali.
Dalam penggalian itu saya ketemu budaya yang tabu, dalam arti tak boleh diterapkan, dan budaya yang harus diterapkan. Itulah bukti bahwa manusia juga harus berbudaya. Dahulu kita tahu kalau Jenderal Hoegeng jatuh dari posisi Kapolri karena menganjurkan agar orang memakai helm saat mengendarai motor. Itu merupakan salah satu upaya untuk menciptakan budaya aman saat berkendaraan di jalan.
Saat ini kita sudah melihat hasilnya, semua pengendara motor menggunakan helm. Saya pun berpikir bagaimana membangun sebuah kebiasaan menyajikan makanan secara aman sehingga akan terbentuk budaya makan yang aman. Mencuci tangan sebelum makan, misalnya, mesti dibudayakan karena di tangan kanan kita, setelah saya teliti, ada satu setengah juta bakteri per sentimeter persegi. Kalau cuci tangan sudah menjadi budaya, bangsa ini akan lebih sehat. Ini salah satu persoalan yang ada. Kelak setelah cara-cara hidup sehat sudah menjadi budaya kita tidak akan perlu lagi merumuskannya dalam peraturan. (WI/Donny Iswandono)

Wirausaha untuk Perubahan Sosial

"SUPAYA bisa terbang, Anda harus punya sayap. Bagi orang-orang miskin, modal yang murah adalah sayap. Kalau mereka tidak punya sayap itu, mereka tidak akan bisa keluar dari kemiskinan." (Mohammad Yunus, pendiri Grameen Bank)

Kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) diyakini banyak kalangan sebagai salah satu solusi terhadap masalah sosial dan ekonomi. Banyak harapan disandarkan terhadap para pembaharu sosial tersebut.

Karena itu, memasuki 2010, Ashoka Indonesia kembali memberikan penghargaan kepada 10 wirausahawan sosial di Indonesia untuk tahun terpilih 2009. Pada penganugerahan tersebut, Ashoka bekerja sama dengan BINUS Entrepreneurship Center (BEC), KADIN Indonesia, dan Asosiasi Kewirausahaan Sosial di Indonesia (AKSI). Penganugerahan award itu menunjukkan bahwa para wirausahawan sosial yang terpilih tersebut layak dianggap meraih kesuksesan.

Harus diakui bisa jadi masih banyak wirausahawan lain di seluruh penjuru negeri ini yang belum mendapatkan penghargaan. Namun, mereka masih tetap bekerja dan mengabdikan tenaga dan pikirannya bagi masyarakat.  "Fellow-fellow yang terpilih belumlah merata di seluruh Indonesia. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan di luar sana masih banyak para wirausahawan yang belum terseleksi oleh kami," ujar Direktur Ashoka Indonesia Mira Kusumarini.

Berdasarkan data Ashoka Indonesia, mayoritas (70%) peraih penghargaan wirausahawan sosial masih berdomisili di wilayah Jawa dan sekitarnya. Kemudian di wilayah kerja Sumatera dan sekitarnya masih dalam hitungan belasan orang. Untuk wilayah kerja Kalimantan, Sulawesi, dan sekitarnya hanya sembilan orang fellow. Wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sekitarnya hanya sejumlah 22 orang fellow. Terakhir untuk wilayah Papua, Maluku, dan sekitarnya hanya tercatat tiga orang yang meraih award kewirausahaan sosial dari Ashoka.

Harus diakui, semakin penyebarannya merata, ide tentang perubahan sosial yang dipelopori para wirausahawan sosial tersebut akan semakin optimal. Sepuluh wirausahawan sosial yang terpilih pada 2009 datang dari beragam bidang kerja. Mulai kesehatan, jurnalistik, hingga pendidikan di antaranya Lexy Rambadetta, jurnalis yang mengembangkan jurnalisme dokumenter untuk penegakan HAM. Lexy yang memiliki wilayah kerja di Jakarta berusaha menyebarkan ide tentang jurnalistik yang independen sekaligus memulai pembuatan arsip sosial dalam bentuk visual di Indonesia.

Sedikit berbeda dengan Muchlis Usman yang mengembangkan TV komunitas dengan melibatkan partisipasi masyarakat sipil. Melalui Kendari TV, Muchlis bersama timnya berusaha memenuhi kebutuhan publik masyarakat Kendari akan informasi yang berkualitas dan keterikatan dengan pemerintah lokal di Indonesia. Di Indonesia belum banyak TV lokal atau bahkan TV komunitas yang mampu bertahan di tengah perkembangan industri pertelevisian saat ini. Dari Bali ada Luh Putu Upadisari yang berusaha memberikan layanan kesehatan reproduksi di pasar tradisional.

Sari–– panggilan akrabnya––menciptakan tempat dan waktu bagi pedagang perempuan yang biasanya terpinggirkan di pasar tradisional. Mereka dapat mengakses layanan kesehatan seksual dan reproduktif melalui organisasinya, Yayasan Rama Sesana. Kemudian Syafi’i Anwar yang concern mengembangkan pendidikan pluralisme di pesantren melalui pembelajaran berbasis internet. Dengan wilayah kerja: Banten dan Jawa Barat. Syafi’i mereformasi sistem sekolah Islam Indonesia dengan memperkaya kurikulum pesantren yakni menambahkan pengembangan keterampilan praktis dan pelatihan di samping pendidikan agama.

Peduli Lingkungan Hidup

Gerakan sosial yang memadukan antara kesehatan dan lingkungan juga dikembangkan Toto Sugito. Melalui komunitas Bike to Work (B2W), Toto bersama kawan-kawannya membangun kesadaran mengenai keuntungan ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang didapatkan dari bersepeda bagi para penghuni kota di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Valentinus Heri di Kalimantan Barat juga concern terhadap isu lingkungan hidup. Di tengah hutan gambut Kalimantan Barat, yang penting di mata dunia, tempat para penghuni asli mulai beralih ke pembalakan kayu secara tak berkelanjutan untuk mendapatkan penghasilan, Heri memfasilitasi usaha madu hutan yang menggiurkan untuk meningkatkan ekonomi lokal sambil melindungi hutan.

Kemudian Anna Alisjahbana yang berhasil mengembangkan integrasi sistem monitoring tumbuh kembang anak ke dalam program posyandu secara nasional. Anna memperkenalkan pendekatan holistik dalam tumbuh kembang anak, yang melibatkan praktik deteksi dan penanganan dini sebagai prinsip utama dalam menjamin kualitas hidup seorang anak.

Praktik Keswadayaan

Praktik inisiatif keswadayaan masyarakat dikembangkan oleh Bambang Ismawan. Pendiri dan pemimpin LSM Bina Swadaya ini memulai inisiatif praktik keswadayaan masyarakat di Indonesia 40 tahun lalu melalui organisasi pemberdayaan yang berkelanjutan, Bina Swadaya.

Tujuan Bambang adalah menjawab kebutuhan petani di pedesaan akan pendidikan, informasi, dan akses terhadap barang dan jasa. Dari Yogyakarta ada nama Roem Topatimasang yang concern terhadap pendidikan politik melalui pengembangan pemimpin lokal untuk hak sipil, politik, dan ekonomi rakyat. Selama 30 tahun, Roem mendidik dan memberdayakan komunitas yang termiskinkan dan terisolasi dari satu tempat ke tempat lain di ribuan pulau di Indonesia agar mengerti haknya dan dapat mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan yang terpusat.

Di wilayah Kalimantan ada Willie Smits yang concern terhadap isu lingkungan hidup melalui penciptaan hutan hujan tropis untuk penghidupan berkelanjutan dan konservasi orangutan. Bisa dikatakan, Willie adalah salah satu pembela orangutan dan habitat alaminya. Namun, lebih dari itu, dia juga penemu bidang kehutanan yang menciptakan revolusi pada teknik dan kebijakan reboisasi di seluruh dunia.

Kick Off Gerakan Bangsa Pembaharu


Jakarta, 10 November 2012. Ashoka Indonesia hari ini mengumumkan peluncuran Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu untuk memperingati 30 tahun Ashoka dan kewirausahaan sosial di Indonesia. 12 penerima penobatan Ashoka Social Entrepreneur 2012 atas dedikasi dan karya-karya inovasi sosial bagi perubahan di Indonesia, menandai dimulainya gerakan ini.
“Kekerasan antar pelajar, konflik suku dan agama, korupsi dimana-mana, adalah sebagian dari headline media di Indonesia akhir-akhir ini”, kata Mira Kusumarini, Direktur Ashoka Indonesia. Menurutnya, untuk menjawab banyaknya tantangan bangsa, termasuk terhadap perkembangan ekonomi baru dunia, Indonesia perlu menumbuhkan lebih banyak lagi wirausahawan sosial dan pembaharu-pembaharu masyarakat, memfasilitasi mereka hingga dampak sosial dapat berkembang dan menyebar luas. Selama lebih dari 30 tahun, para wirausahawan sosial telah membuktikan bahwa tidak ada praktik dan ketrampilan yang lebih mendasar dari sosok seorang pembaharu. Dan empatilah yang menjadi akar perubahan sosial, sebuah nilai yang memungkinkan setiap orang menjadi pembawa perubahan. Karenanya penting bagi setiap institusi, mulai dari keluarga, sekolah, perusahaan hingga negara, mengintegrasikan empati sebagai prinsip dasar terjadinya perubahan ekonomi dan sosial bangsa.
Untuk membangun gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu, Ashoka mengajak setiap orang –siapapun dan dimanapun untuk menjadi pembaharu bagi masyarakat. Di dalam acara peluncuran hari ini, contoh-contoh konkrit pembaharu Indonesia termasuk social entrepreneur, pembaharu muda, guru dan sekolah pembaharu, perusahaan pembaharu mengungkap pengalaman dan kiat mereka menumbuhkan pembaharu-pembaharu Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa menumbuhkan pembaharu itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja baik individu, lembaga sosial atau perusahaan, di tingkat lokal, nasional atau global. Semua dimulai dari empati yang diwujudkan dalam prakarsa-prakarsa sosial yang berkesinambungan.
Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu mengkampanyekan penumbuhan pembaharu masyarakat melalui “Ayo Jadi Pembaharu” dan mengundang mereka bergabung dalam komunitas pembaharu online www.changemakers.com/innovations untuk dapat terekspos dan berpeluang mengembangkan gagasan dan dampak sosial. Melalui kampanye “Sepuluh Ribu untuk Satu Pembaharu” Gerakan mengajak dermawan dan investor sosial untuk mendonasikan Rp 10.000 per satu pembaharu yang telah ditumbuhkan oleh para social entrepreneur, pembaharu muda, guru atau sekolah pembaharu, atau pembaharu masyarakat lainnya. Kompetisi online, publikasi seri inovasi, rangkaian kegiatan sepanjang tahun oleh lembaga penumbuh pembaharu di seluruh Indonesia akan menjadi bagian upaya membangun gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu yang dapat diakses di www.bangsapembaharu.com. Hingga September 2013, diharapkan Indonesia sudah bisa menumbuhkan satu juta pembaharu masyarakat.
Menandai dimulainya Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu, penobatan pembaharu Indonesia sebagai Ashoka Social Entrepreneur tahun 2012, diberikan kepada:
  1. Bambang Suwerda  – Bank Sampah bagi pengolahan limbah dan peningkatan ekonomi
  2. Deka Kurniawan – Terapi dan pendidikan bagi anak autis dhuafa
  3. Dian Wahdini Syarief – Sistem pendukung bagi orang hidup dengan penyakit autoimun dan low vision
  4. F.G. Winarno  – Infrastruktur baru bagi produksi pangan yang aman dan kesempatan kerja lokal dalam industri pengolahan pangan
  5. Harry Suliztiarto – Sistem keamanan bagi pekerja di ketinggian
  6. Hokky Situngkir – Objektivitas ilmu pengetahuan bagi gerakan budaya nasional
  7. John Rahail – Pra-sekolah berbasis budaya tradisional yang membuat pendidikan menjadi relevan
  8. Lynna Chandra – Sistem nasional asuhan paliatif anak berbasis rumahan
  9. Mohammad Alhabsyi – pendekatan kolaboratif pemerintah dan masyarakat untuk pencegahan malaria
  10. Paris Sembiring – Bank Pohon untuk konservasi dan peningkatan ekonomi
  11. Samsurijal Djauzi – Pendekatan komprehensif untuk diagnosis, pengobatan, dan pencegahan HIV / AIDS
  12. Vinsensius Nurak – Pengolahan lahan kering dan terdegradasi menjadi penghasil pangan sepanjang tahun dan penumbuh ekonomi lokal.
Tersaring dari lebih seratus nominasi, dengan 5 kriteria seleksi (1) Kebaruan gagasan (Inovasi social) (2) Tingkat Kreativitas (3) Kualitas Kewirausahaan (4) Dampak sosial (5) Etika, para social entrepreneur telah mengikuti 5 tahapan seleksi, termasuk (1) Penominasian, (2) Peninjauan Staff, (3) Peninjauan Opini Kedua, (4) Seleksi Panel, (5) Keputusan Akhir oleh Board Internasional. Dukungan finansial dan non-finansial diberikan supaya apa yang telah diprakarsai dapat berkesinambungan sehingga dampak sosial dapat menyebar dan meluas.

Mengenai Ashoka: Pembaharu bagi Masyarakat
Ashoka adalah asosiasi global para wirausahawan sosial terkemuka. Ashoka membantu mereka mulai dan mencapai keberhasilan dalam mengupayakan perubahan pola berskala besar yang sangat diperlukan. Para wirausahawan sosial berkarya di berbagai bidang kebutuhan manusia – dari hak azasi manusia hingga lingkungan, dari hak ekonomi hingga pemberdayaan anak muda. Investasi awal yang kecil memproduksi hasil yang luar biasa. Lima tahun setelah peluncuran, antara 49 hingga 60 persen telah mengubah kebijakan nasional dan sekitar 90 persen lembaga lain meniru inovasi mereka. Bersama para wirausahawan sosial ini Ashoka membangun komunitas inovator yang bekerja sama mengubah masyarakat, dan merancang cara baru agar sektor sosial menjadi semakin produktif, entrepreneurial, dan terintegrasi secara global. Kini lebih dari 2000 wirausahawan sosial terkemuka Ashoka tersebar di lebih dari 70 negara dan 165 diantaranya di Indonesia. Fellowship global Ashoka didanai oleh sektor swasta baik individu, jaringan usaha, yayasan, dan wirausahawan bisnis terkemuka.
www.ashoka.or.id | www.ashoka.org  | www.changemakers.net

media

Berita Video

video

Donate

 
Original Design by Ashoka Indonesia Modified by Ido