Indonesia Bangsa Pembaharu: kerjasama | Informasi Dunia Maya Terkini
Headlines News :






Subscribe me

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Latest Post
Showing posts with label kerjasama. Show all posts
Showing posts with label kerjasama. Show all posts

Monday, 17 December 2012

Wirausahawan, Pemimpin Pembawa Perubahan


Pembukaan Global Enterpreneurship Week 2012
Jakarta. Para wirausahawan (enterpreneurs) adalah para pemimpin bangsa yang membawa perubahan dan pembaharuan. Peran mereka sangat strategis dalam pembangunan ekonomi. Bahkan sesungguhnya, peran kewirausahaan sangat dibutuhkan di berbagai bidang untuk melakukan pembaharuan di negeri ini.

Demikian Wakil Presiden Boediono mengatakan saat memberikan sambutan dalam pembukaan Global Enterpreneurship Week (GEW) 2012 di Bank Indonesia, 12 November 2012. "Saya sendiri bukan enterpreneur, karena sejak awal selalu berkecimpung di sektor publik. Tapi karena saya akademisi yang mempelajari pembangunan ekonomi di berbagai negara, saya mengerti sekali peran strategis para wirausahawan ini, mereka champion yang melakukan perubahan," kata Wapres Boediono.

Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dan para pendukung kegiatan Global Enterpreneurship Week antara lain tokoh GEW Indonesia Ciputra dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Mark Canning serta Kauffman Foundation dari Amerika Serikat.

Wapres Boediono mengakui bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia masih kecil, yakni hanya 1.56 % penduduk yang bisa dikategorikan sebagai wirausaha. Untuk kategori yang sama, Malaysia mencatat angka 4, Thailand 4.51 dan Singapura 7.2. "Ini baru menyangkut kuantitas. Dari segi kualitas belum tercermin di angka-angka itu. Tapi kalau kita lihat potensi wirausahawan kita, mustinya bisa lebih dari itu karena dari sektor informal saja kita lihat banyak yang berusaha atas resiko sendiri. Kalau untung ya dapat untung, kalau rugi ya menanggung rugi sendiri. Jadi kalau dari segi kualitas kita tidak kurang," katanya.

Menurut Wapres, demi mengembangkan kewirausahaan ada sejumlah tantangan yang masih harus dihadapi. Tantangan tersebut tentu saja bersinggungan dengan unit-unit bisnis yang menjadi wadah dari para wirausahawan tersebut. Terdapat enam kategori yang sering diasosiasikan sebagai handicap dalam mewujudkan unit bisnis, yakni: (1) masalah penegakkan hukum sebagai masalah fundamental karena wirausahawan mustahil bisa mengembangkan usaha di suatu daerah yang masih terganggu keamanannya, (2) pertumbuhan makro ekonomi yang stabil. Sikap konservatif fiskal yang prudence adalah opsi terbaik dalam kondisi ekonomi global yang serba tidak pasti. "Kalau makro-nya seperti yoyo atau roller coaster, maka orang yang bisa usaha hanya mereka yang sangat pandai atau sangat spekulatif. Yang produktif normal akan mundur," kata Wapres.

Kategori tantangan (3) adalah masalah infrastruktur yang memiliki dampak besar bagi wirausahawan karena kebanyakan transaksi ekonomi pasti mencantumkan komponen biaya transportasi. Studi Bank Dunia beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa investasi di luar perkotaan sangat dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya infrastruktur dasar yang memadai.

(4) Regulasi dan aturan yang bisa mendukung atau sebaliknya justru menghambat wirausaha, terutama dalam era otonomi daerah ketika pemerintah daerah mengeluarkan aturan-aturan yang berpengaruh langsung pada pengembangan wirausaha,

(5) Tersedianya layanan finansial bagi bisnis mikro maupun makro karena hal ini akan mempengaruhi pengembangan suatu bisnis. "Dalam hal ini para perumus kebijakan sedang berusaha menjabarkan lebih jauh konsep financial inclusion karena dari situ bisa terjaring calon-calon wirausahawan muda," kata Wapres.

Dan yang terakhir (6) adalah masalah tenaga kerja yang terlatih dan terampil yang sangat dibutuhkan oleh pengembangan industri.

Untuk menjawab yang terakhir, Wapres Boediono mengajak kalangan swasta dan perbankan untuk terus menerus melakukan program pelatihan kewirausahaan dan mentoring. Wapres juga meminta agar para pelaku pelatihan dan mentoring dari berbagai kalangan bisa bersinergi dan bergabung dalam sebuah forum komunikasi demi mencapai tujuan bersama yakni pengembangan kewirausahaan secara nasional.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dukungan Bank Indonesia (BI) terhadap kampanye Global Enterpreneurship Week yang dimulai di Amerika Serikat dan Inggris ini adalah upaya BI untuk memaksimalkan momen pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang tercatat sebagai salah satu yang paling stabil di dunia, seperti yang baru-baru ini dikutip majalah The Economist.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil tersebut, kata Gubernur BI, disokong oleh konsumsi dalam negeri dan investasi. Dari data yang dipublikasi 2-3 tahun belakangan, investasi yang masuk ditujukan untuk memenuhi pasar dalam negeri yang dinamis. “Karena itu maka enterpreneur dalam negeri mestinya lebih mudah menjangkaunya,” kata Wapres.

Gubernur BI meminta kalangan swasta untuk menggunakan dana tanggungjawab sosialnya untuk pengembangan potensi, pelatihan dan mentoring keriwausahaan. Kampanye GEW pertamakali diselenggarakan 2007 melalui Enterpreneurship USA, lalu enterprise UK 2008. Tahun ini kampanye GEW akan digelar di 125 negara termasuk Indonesia, dimana selain Bank Indonesia, terdapat lagi bank sentral negara lain yang terlibat yakni dari Afrika Selatan.

Dalam kampanye GEW ini BI melakukan program kerja penciptaan wirasauhawan baru di tujuh kantor BI antara lain Surabaya, Bandung, Makassar, Semarang, Palembang dan Yogya dengan target kelompok mahasiswa dan mantan Tenaga Kerja Indonseia (TKI). Pelatihan juga dilakukan di Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dari 1570 peserta, terdapat 243 yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan. Terdapat pula talkshow dan pelatihan kewirausahaan di salah satu pesantren di Jawa Timur.

BI juga melakukan penyertaan modal seed capital kepada perwakilan peserta terbaik program wirausaha dengan total nilai Rp 3 Miliar dari anggaran program sosial BI yang diserahkan oleh Wapres Boediono

Sumber: http://goo.gl/4Fz5U

Mahasiswa Harus Jadi Pembaharu




MEDAN – Jika tidak ingin terlindas perkembangan zaman, mahasiswa diharapkan bisa menjadi orang yang mampu melakukan pembaharuan di segala bidang. Bukan zamannya lagi mahasiswa hanya mengikuti apa yang sudah ada.

Pola pikirnya harus diubah dari fix mindset (berpikiran tetap) menjadi growth mindset (berpikiran maju). “Cracking zone ini adalah orang yang mampu melakukan pembaharuan dalam suatu industri. Selama ini mahasiswa masih banyak yang terperangkap dalam suasana yang nyaman dan kalau tidak sadar bisa terus terlindas,” ungkap pemikir dan praktisi perubahan Rhenald Kasali di Kampus USU, Medan, kemarin.

Motivator untuk perubahan bisnis ini menyebutkan, menjadi seorang crackers merupakan solusi menghadapi perubahan zaman dan keluar dari perangkap zona nyaman. Menurut dia, mahasiswa sebaiknya terus berupaya menggali dan mengembangkan ilmu yang dimilikinya.

“Bisa dicontohkan, seorang Bondan Winarno itu adalah seorang crackers. Dia hanya tamatan SMA, tapi mampu menjadi kepala program kuliner di salah satu televisi. Ini dilakukannya karena dia memilikigrowth mindset,” kata Rhenald.

Ketua Program Studi S-2 dan S-3 Manajemen USU Paham Ginting mengakui hingga saat ini masih banyak mahasiswa yang berpikir lulus kuliah menjadi pegawai negeri sipil. Mereka ini disebutnya punya pola pikir tunggu dan lihat, padahal seharusnya pola pikirnya harus diubah menjadi melihat dan bertindak. (lia anggia nasution/sindo)  (//rfa)

Sumber: http://goo.gl/CKNSB

Fellow 2012: Paris Sembiring


SMP, Paris Sembiring (45) tak lulus. Mulai dari buruh, loper koran, petani sampai tukang becak, pernah dia jalani. Namun, keisengannya mengumpulkan buah mahoni sembari menunggu penumpang becaknya puluhan tahun lalu berbuah manis. Kini, dia salah satu peraih penghargaan Kalpataru 2003 kategori Pembina Lingkungan. Pemerintah menghargai usahanya memelopori pelestarian lingkungan hidup di Medan dan sekitarnya. 

Apa yang membuat Anda memperoleh penghargaan Kalpataru? Entah, ya. Selama ini, saya ikhlas bekerja, ngasih bibit gratis dan pelatihan pada yang membutuhkan. Tapi rupanya saya dianggap sebagai pembina lingkungan hidup yang siap memberi informasi tentang melestarikan lingkungan pada masyarakat.

Bagaimana mulanya Anda tertarik pada lingkungan? Saya kerap berteduh di bawah pohon mahoni yang memang banyak tumbuh di sejumlah ruas jalan di Medan, seperti Jl. Sudirman, J. S. Parman. Pokoknya, tempat becak saya mangkal. Dari tahun 1978 - 1982, saya memang penarik becak. Sambil menunggu penumpang, saya rajin mengutip buah dan biji mahoni yang jatuh. Lalu, saya bawa pulang ke rumah kontrakan untuk disemaikan jadi bibit.

Bibit itu bisa berkembang? Ya. Lalu, saya bagikan ke tetangga. Mau ditanam di pekarangan atau kebun, terserah mereka. Lama-kelamaan, bukan cuma mahoni yang saya bibitkan, tapi juga meranti dan beringin yang bisa hidup di daerah bebatuan.

Anda mengambil bibit dari mana saja? Sebagian bibit saya kumpulkan dari hutan, tapi ada juga yang diberi kenalan saya.
Kegiatan mengutip buah mahoni ini terhenti sejak Paris tak lagi menarik becak. Pekerjaan ini dia tinggalkan karena pada 1981 Pemkot Medan melarang becak memasuki tengah kota. Sebagai gantinya, dia buka warung kopi di kawasan Padang Bulan, Medan.

KLIK - DetailSukseskah usaha warung kopi Anda itu? Tidak, mungkin rezeki saya bukan di situ. Tapi, dari pekerjaan itu, saya punya hikmah lagi. Kalau sedang tak ada pembeli, saya selalu berkebun. Sepetak tanah di belakang rumah kontrakan jadi tempat menyalurkan hobi berkebun. Sejak kecil, saya memang cinta tumbuhan. Usaha warung itu sendiri cuma bertahan setahun. Setelah menikah pada 1983, saya pulang kampung . Saya ingin mengolah lahan milik orang tua.

Apa yang terjadi? Awal menuai, tak semulus yang diharapkan. Ternyata, jadi petani itu sangat memprihatinkan. Pendapatan pas-pasan. Yang paling sulit, waktu keluarga sakit karena biaya berobat sangat mahal. Tapi justru itu yang mendorong saya kerja lebih keras lagi, meskipun, kegagalan masih harus saya hadapi.

Saya makin semangat saat teringat nasihat orang tua yang bilang bahwa manusia hanya bisa menabur dan Tuhanlah yang menentukan hasil tuaian. Nasihat itu yang sampai kini terus mendorong hidup saya. Saat itu, saya terpikir untuk membuat penangkaran benih. Saya mulai dari beberapa jenis bibit. Tak disangka, jumlah bibit di lahan penangkaran makin banyak, hanya dalam waktu tak terlalu lama.

Penangkaran benih itu apa? Penangkaran benih adalah kegiatan memproduksi tanaman, mulai dari biji dibuat kecambah, disemai, ditabur, diokulasi dan dienten lantas kita unggulkan dan dijual. Ada juga yang sampai berbuah. Orang yang menangkarkan disebut penangkar benih. Di Sumut, jumlah penangkar benih sekitar 400 orang.

Mereka tergabung dalam Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta). Untuk periode 2002 ­ 2005, saya ditunjuk sebagai ketua. Banyak yang mau jadi penangkar benih, lho, tidak hanya dari Sumatera saja, tapi juga dari Irian. Orang yang dulu membantu saya menangkar, banyak yang kini jadi penangkar. Rencananya, bulan Agustus ini kami akan mengadakan pameran lingkungan.

KLIK - DetailSebagai penangkar benih, sudah berapa bibit yang Anda hasilkan? Jutaan, karena saya sudah 20 tahun jadi penangkar benih. Saat ini saja, saya punya dua juta stok bibit. Semua ada di kebun pelestarian seluas tiga hektar di Deli Serdang yang dikenal dengan sebutan Sapo Rukun Bersama Tanaman. Sedangkan lokasi pembibitan ada di beberapa tempat, yaitu di Pancurbatu seluas satu hektar yang disebut Sapo Rindu Berkat Tuhan, di Kel. Titi Kuning seluas 0,8 hektar dan di rumah saya.

Punya tanaman langka dan obat tradisional? Ya. Tanaman langka misalnya sawo duren, sirsak kuning, kedondong hutan, tualang dan nona. Sedangkan tanaman obat antara lain salam, tapak liman, sosor/cocor bebek, daun kuping macan, encok, mahkota dewa, tebu merah dan lain-lain.

Khusus tanaman obat tradisional Karo, saya berhasil melestarikan 16 jenis tanaman. Salah satu diantaranya dikenal masyarakat sebagai obat yang berkhasiat menambah stamina, yaitu gagaten harimau (Ampelocissus Thyrsiflorae). Selain itu, saya juga punya tanaman buah dan hias yang dibuat dalam polybag.

Saat Paris tengah diwawancara, Nursity Br Tarigan, istrinya, datang dan mendampingi suaminya.

"Inilah istri saya. Saya sangat mengaguminya. Dialah yang banyak membantu saya selama ini di kebun. Semoga Tuhan tetap memberkatinya," ujar Paris.




KLIK - DetailAda berapa jenis tumbuhan Anda sekarang? Lebih dari 100 jenis. Sebanyak 32 jenis di antaranya termasuk tumbuhan langka, 58 jenis tanaman obat, 16 jenis tanaman obat khusus tradisional Karo. Sisanya, tanaman yang banyak dibudidayakan dan masih potensial dikembangkan untuk pelestarian hutan dan perkebunan. Misalnya, mahoni, jati, asam glugur, mangga dan belimbing.

Dari semuanya, apa tumbuhan istimewa buat Anda? Mahoni. Pohon itu, kan, tonggak sejarah aktivitas saya dulu. Yang paling banyak saya kembangkan, pun, mahoni.

Berapa modal untuk memulai usaha ini ? Saya tak pernah bicara soal modal, karena sejak awal saya memang minus modal. Tapi, kalau sekarang diberi modal, saya syukuri. Sekarang, biaya operasional juga tak banyak, kok, per bulan cukup Rp 1,5 juta. Meski biayanya kecil, satu orang penangkar bisa memproduksi dua juta bibit dari berbagai jenis tanaman setiap tahun.

Omong-omong, bagaimana, sih, kondisi tanaman Indonesia saat ini? Menyedihkan. Saya pernah melihat orang asing membawa tanaman hutan kita ke negaranya. Di sana, dikembangkan melalui kultur jaringan. Setelah mereka patenkan haknya, tanaman itu dikembalikan lagi ke negara kita. Mereka jual dengan harga luar biasa mahal. Makanya, itu perlu jadi perhatian kita sekarang.

Anda sendiri, apa usaha yang Anda lakukan? Menggerakkan masyarakat dan pemerintah agar lebih mencintai tanaman negeri sendiri. Antara lain, dengan memberikan bantuan ke pemerintah Binjai, Pematang Siantar, Deli Serdang dan masyarakat Karo sebanyak lebih dari 60.000 batang pohon sejak tahun 1993. Jenisnya antara lain mahoni, pinang, kayu-kayuan, jambu mete dan buah-buahan. Sumbangan itu untuk penghijauan, penelitian dan pelestarian Daerah Aliran Sungai.

Mungkin karena itu nama saya dikenal. Lalu, saya bermitra dengan lembaga terkait dalam pembinaan lingkungan hidup, pertanian, kehutanan, perkebunan di Sumut dalam pengadaan bibit. Tahun 1998 ­ 2002, saya juga dipercaya melestarikan kawasan Ekosistem Leuser, yaitu lembaga kerja sama RI - Uni Eropa dengan mendukung pengembangan pembibitan tanaman langka, buah, kebun dan hutan.

Selain itu? Untuk penduduk yang tinggal di sekitar hutan, saya anjurkan untuk menanam buah-buahan agar tidak sesuka hati menebang hutan. Lagipula, hasilnya bisa dinikmati mereka juga, misalnya pohon durian.

Sudah puas dengan yang Anda peroleh sekarang? Belum, karena lingkungan kita belum bisa dikatakan baik. Bayangkan, dari 130 juta hektar luas hutan di dunia, 45 juta hektar hancur total termasuk lingkungannya. Contoh kecil saja, dari Pancurbatu sampai perbatasan Tanah Karo, semua sudah 'digarap' termasuk hutan lindung. Tapi pemerintah membiarkannya.

KLIK - DetailApa saran Anda? Seharusnya, lingkungan juga jadi perhatian pemerintah, enggak cuma kemegahan kota saja yang diurus. Di Indonesia, 100 juta penduduk diperkirakan kesulitan air, termasuk daerah pegunungan. Sedangkan di seluruh dunia, diprediksi sekitar dua miliar orang. Makanya, sebaiknya masyarakat membiasakan menanam minimal satu pohon di rumah. Rawatlah sampai besar dan rimbun supaya ekosistem tetap terjaga.

Apa hasil yang bisa Anda nikmati dari pekerjaan ini? Saya bisa punya rumah dan beberapa mobil. Lalu, kelima anak kami, Ruth Rossana,Vastita, Haristo, Friska dan Jane Ifana bisa sekolah dengan baik. Bahkan, si sulung dapat beasiswa di kampusnya. Memang tidak ada yang mengambil jurusan pertanian, tapi mereka cukup tahu perjuangan hidup ayahnya dulu.

Anda sendiri, dulu bercita-cita jadi apa? Dokter, tapi enggak kesampaian karena sekolah cuma sampai kelas 2 SMP. Saya, kan, cuma anak petani yang hidup pas-pasan. Tapi saya terbiasa mandiri, lho. Sejak kelas 1 SD, sambil sekolah, saya berjualan kecil-kecilan, termasuk hasil ladang orang tua. Oh ya, saya anak keenam dari tujuh bersaudara. Tamat SD saya ikut abang ke Tanah Karo. Di sana, saya jualan apa saja, termasuk koran.

Lalu, pindah ke Medan dan jadi buruh kasar di Belawan. Sempat berniat kerja di kapal, tapi batal karena jiwa saya bukan di situ. Tahun 1977, saya pindah ke Medan hingga sekarang. Setelah sukses begini, ada saja orang menawari gelar. Tapi saya tolak. Itu sama dengan menipu diri sendiri. Ada juga yang nawarin untuk memfilmkan kehidupan saya. Ini juga saya tolak. Hidup saya cukup bahagia dari tanaman, dan hidup saya untuk lingkungan. Itu tidak bisa diukur lewat gelar maupun uang.

Sumber: http://goo.gl/3b63O

John Rahail: Sekolah Kampung untuk Masa Depan Papua

MASIH sedikit sumber daya manusia yang terampil dan memiliki pengetahuan cukup di Papua, sementara kekayaan alam yang melimpah di sana belum bisa diolah oleh putra-putri provinsi tertimur Indonesia itu. Sebaliknya, banyak investor asing yang menguasai kekayaan alam di sana. 

Rendahnya sumber daya manusia yang berkualitas menjadi perhatian serius John Rahail, 45, dosen di Universitas Cendrawasih, Papua. 

Menurutnya, mayoritas masyarakat Papua belum menganggap pendidikan sebagai kebutuhan yang cukup penting. 

Melalui lembaga yang dibentuknya, Institute of Community Development and Emporwerment (ICDP), John mendirikan sekolah kampung yang diberi nama Maju Bersama, di pantai timur Desa Beneraf, Kabupaten Sarmi.

Sejak 2007 ia mulai mengembangkan konsep pendidikan berbasis kearifan lokal yang terintegrasi. John mengemas kurikulum pendidikan dengan mendekatkan anak-anak dengan lingkungan. 

''Kegiatan belajar mengajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Bisa di rumah adat, balai kampung, pinggir sungai, atau di atas pasir. Mereka belajar di bawah pohon dengan beralaskan terpal. Sekolah unik ini merupakan yang pertama di Papua,'' terang John. 

Dia menginginkan anak-anak Papua bisa membangun kepercayaan diri, mencintai sekolah, dan senang belajar. ''Karena selama ini masyarakat Papua masih menganggap masalah pendidikan kurang penting,'' imbuhnya. 

Sekolah kampung yang didirikan itu ditujukan untuk anak-anak usia dini, mulai 3 hingga 5 tahun. Saat ini sebanyak 50 anak belajar di sana. 

Sekolah kampung tersebut hanya memiliki satu bangunan yang digunakan sebagai ruang kelas dan diisi dengan peralatan seadanya. Anak-anak duduk di lantai. Di hadapan mereka ada bangku panjang yang berfungsi sebagai meja. 

Di kelas sederhana itu anak-anak bebas bermain dan belajar mengenal warna, benda, gambar, dan lainnya dengan perasaan gembira. 

John memang sengaja mengajak anak-anak balita itu untuk mengenal huruf, angka, warna, serta permainan edukatif lainnya. Kegiatan belajar mengajar di sekolah kampung itu hanya diadakan tiga kali dalam seminggu. 

Untuk bersekolah di sana, orangtua siswa tidak dipungut biaya alias gratis. 

''Ini sangat membantu cara berpikir mereka dari berbagai sisi. Biasanya anak-anak itu jarang mandi. Tapi, sejak ikut sekolah kampung, mereka mandi secara teratur,'' terang John setelah melihat kemajuan anak-anak didiknya. 

Pendidikan usia dini bagi anak-anak Papua memang cukup strategis untuk menumbuhkan cinta kepada dunia pendidikan. Nantinya saat memasuki jenjang sekolah formal, anak-anak sudah bisa membaca dan menulis. 

Pasalnya, lanjut John, di Papua ada anak usia SMP belum bisa membaca. Hal itu diperparah dengan minimnya komunikasi antara anak dan orangtua di rumah menyangkut kegiatan belajar di sekolah. 

''Ada mata rantai yang hilang dalam pembangunan pendidikan di Papua. Proses pendidikan anak dalam keluarga tidak dipersiapkan untuk masuk sekolah formal. Mereka hanya dikenalkan tentang alam dan lingkungan,'' jelasnya. 

John pun kerap menemui kasus anak hanya masuk sekolah satu hari, kemudian selama sebulan bolos sekolah. Mereka malas melanjutkan sekolah dan lebih memilih membantu orangtua berladang. 

''Ada sebuah cara pandang masyarakat Papua tentang pendidikan. Proses belajar di sekolah dipandang sebagai beban, sesuatu yang menakutkan, keterpaksaan, dan kebiasaan yang memengaruhi tingkat partisipasi anak dalam kehadiran dan proses belajar di sekolah.'' 

Untuk itu, pendirian sekolah kampung bisa menjembatani kendala-kendala yang dihadapi anak saat memasuki jenjang sekolah dasar. 


Penuh kendala 

Membangun sekolah kampung bukan tanpa kendala. Masyarakat tidak sepenuhnya mendukung program cemerlang milik John ini. Masyarakat saat itu menganggap bersekolah hanya membuang waktu. Anak-anak yang sekolah belum tentu langsung kerja dan mendapatkan uang. ''Sekolah hanya untuk anak kota. Orang desa tidak perlu sekolah, buang-buang waktu saja'' jelasnya. 

Saat didirikan di Desa Beneraf, sekolah kampung mendapat respons negatif dari warga sekitar. John sempat diusir warga yang tidak setuju dengan kehadiran sekolah tersebut. 

''Awalnya masyarakat beranggapan bahwa kami hanya mengedepankan mimpi-mimpi daripada kenyataan. Alasan mereka adalah sekolah formal yang memiliki gedung dan guru PNS saja tidak serius, apalagi model sekolah kampung yang hanya mengedepankan partisipasi masyarakat seperti ini,'' ungkapnya. 

Sebagai putra asli Papua, John sangat menyadari permasalahan pendidikan yang terjadi di tanah leluhurnya. Walaupun hampir di setiap distrik dan kampung terdapat gedung sekolah dan aktivitas belajar pendidikan dasar, itu tidak menjamin semua anak usia sekolah berpartisipasi. 

Angka partisipasi murni (APM) anak-anak sekolah masih rendah. Siswa yang belajar aktif setiap hari di wilayah pinggiran dan kampung hanya 40%. 

Dengan kondisi itu, John kemudian memaksimalkan potensi tenaga pengajar lokal dengan merekrut empat pemuda lulusan SMP dan SMA untuk mengajar di sekolah 
kampung tersebut. 

Pria kelahiran Merauke ini mengajak empat pemuda tersebut untuk membimbing anak-anak di dalam suku maupun sub-subnya untuk mengenal dunia pendidikan. 

Di dalam adat masyarakat Papua, terdapat sub-subsuku. Setiap marga memiliki tugas dari subsukunya. Ada yang bertugas mengawasi laut, berperang, serta menjaga keselamatan warga dari perang suku dan binatang buas. ''Nah belum ada subpendidikan. Kami masuk di situ, dan empat pemuda itu memang telah direkomendasikan oleh kepala suku untuk membimbing generasi muda di desa mereka melalui pendidikan,'' ungkap John. 

Dalam tiga tahun terakhir, lulusan sekolah kampung ternyata banyak diterima di sekolah dasar, dengan alasan mereka siap memasuki jenjang pendidikan. Anak-anak memiliki banyak pengetahuan serta mampu beradaptasi dan berpartisipasi. 

Kini tidak hanya balita yang menuntut ilmu di sekolah kampung. Ibu-ibu yang masih buta huruf mulai bergabung untuk belajar membaca di sekolah tersebut. Biasanya mereka menyempatkan belajar membaca saat menunggui anak di sekolah. Sebuah usaha cerdas yang berbuah manis. (N-3)

Sumber: http://goo.gl/ymjjF

Brings Palliative Care to Children in Indonesia


SINGAPORE – Lynna Chandra of Medan, Indonesia, has been selected by Ashoka: Innovators for the Public as a member of its global fellowship of leading social entrepreneurs.

Lynna Chandra is changing the way children with terminal illnesses are treated in Indonesia, replacing the default of “giving up” on such patients (when treatments are no longer viable) with a new system of continuous care for the children and support for their families. Her Jakarta-based organization, Rachel House, provides palliative care to children in the final stages of HIV/AIDS and cancer. Patients who benefit from Chandra’s services aren’t forgotten or isolated; they can live with comfort and dignity through their last days. In addition to providing direct care, Chandra is leading a movement to integrate pediatric palliative care into the Indonesian healthcare system.

Though there are nearly 11,000 new cases of childhood cancer each year in Indonesia, palliative care – a medical discipline that focuses on pain and symptom management in a holistic manner – is not a common practice.

“When we were recruiting our first batch of nurses, any mention of palliative care or hospice was met with blank stares” Lynna said. “Only then did I realize that palliative care was not taught in medical or nursing schools.”

One reason is tied to Indonesia’s strict policies on narcotics, which limit access to painkillers such as opioid analgesic, the most effective treatment for severe pain among cancer patients. Another cause can be traced to 2007 governmental regulations, which made palliative care legal to practice only with a hospital license and only for adults.


With such restrictions in place, palliative care has never been formalized into Indonesia’s healthcare system. As a result, most nurses and hospital staff lack training in this area. Instead, they focus on processing patients in overcrowded conditions, providing cures, or, when a cure isn’t available, discharging patients to make room for others.

Founded in 2006, Rachel House began providing at-home care and support in 4 areas of Jakarta in 2008. Since then, Chandra has created ways to integrate her services into the chain of existing healthcare providers, instituting a referral system that enables doctors and nurses at public hospitals to refer patients to Rachel House in a few simple steps. And to ensure optimal care for patients, Chandra has actively promoted awareness of palliative care and brought palliative care training to public hospitals to ensure continuum care for patients. Perhaps most important, her advocacy has made access to the best pain medicine now possible.

Children who are referred to Rachel House receive holistic care, including pain relief and symptom management, as well as spiritual and psychosocial support – making it possible for patients to live optimally through their remaining days. Services are free for patients, most of whose families would have sold all of their belongings to afford the treatment.

Rachel House is quickly becoming a national role model of how to provide high-quality homecare to sufferers of some of the most painful diseases. Chandra has mobilized hundreds of nurses and doctors to take part in palliative care trainings. Furthermore, she has lobbied the Higher Education of Health Science and the Nursing Schools in Jakarta and as far as those in West Java Province to integrate pediatric palliative care nurse training into their curriculum.

A former banker, Chandra was born in Sumatra and educated in Singapore and Australia. She was inspired to improve the lives of dying children after experiencing the death of a beloved friend to cancer in 2004. After observing how her friend passed away surrounded by love and warmth, Chandra felt troubled that many people – especially sick children from poor families – weren’t so fortunate. She became determined to change the fate of children living with fatal illnesses in Indonesia.

If you would like to learn more about Rachel House, please contact:

Yayasan Rumah Rachel (Rachel House)Graha Indramas

Jl. Aipda KS Tubun Raya, No. 77, Jakarta Barat, 11410

Tel. No. (021) 5365 2197

E-mail: info@rachel-house.org

Website: www.rachel-house.org

PROF. DR. F.G. WINARNO: Kualitas Pangan Tentukan Peradaban


Makanan tradisional merupakan kekayaan budaya yang tenggelam saat ini. Sayang, tak ada kebijakan negara yang mendorong bangsa Indonesia untuk lebih mencintai harta terpendam tersebut. Dalam pengamatan ahli rekayasa pangan Prof. F.G. Winarno, makanan tradisional memiliki nilai gizi yang lebih lengkap ketimbang makanan modern serta punya tingkat keragaman yang lebih baik.
Ironisnya, pintu masuknya makanan impor kini terbuka lebar, industri makanan dan minuman tradisional pun tergilas. Tak ada pemegang kekuasaan yang berpikir dan bertindak konsisten merumuskan strategi pangan.
Kepada Donny Iswandono dari Warisan Indonesia, Pak Win—demikian orang nomor satu pada Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia itu akrab dipanggil—menuturkan panjang lebar kegundahan hatinya serta obsesinya untuk menyelesaikan sebuah ensiklopedia makanan tradisional. Ia yakin budaya Indonesia bisa tumbuh kuat apabila kita mengerti makna filosofis dan kultural yang tersembunyi dalam makanan tradisional.
Bangsa Jepang punya kebiasaan makan yang membuat mereka jadi bangsa yang hebat. Kebiasaan makan setiap daerah berbeda, mungkinkah nenek moyang kita juga punya resep hebat?Kalau kita melihat banyak jenderal hebat datang dari wilayah Banyumas, seperti Sudirman, Soesilo Sudarman, (Supardjo Rustam, Ahmad Yani, Endriartono Sutarto, Red), saya selalu berpikir kenapa hal yang sama terjadi di China. Para jenderal hebat China berasal dari wilayah Sichuan. Hal itu mengundang saya untuk berpikir, kemungkinan ada tradisi makan yang membuat oran-gorang di kedua wilayah itu tumbuh sebagai manusia yang hebat.
Suatu saat, saya pernah diminta mengatasi wabah tempe bongkrek yang merenggut nyawa orang di kawasan Banyumas. Setelah kami bentuk tim peneliti untuk mengetahui sebab-sebab mengapa makanan tradisional itu tiba-tiba merenggut nyawa orang. Akhirnya, kami tahu bahwa ada kandungan bakteri yang tak baik untuk tubuh manusia dalam aliran Sungai Serayu (produsen tempe bongkrek banyak yang memanfaatkan airnya untuk mencuci, Red).
Sekarang makanan itu sepertinya tak lagi populer di masyarakat. Dan, kita tak lagi mendengar jenderal-jenderal kita berasal dari wilayah itu. Dugaan saya, di wilayah itu ada tradisi makan yang kuat sehingga banyak orang hebat tumbuh dari sana.
Lantas bagaimana sebaiknya mengembangkan strategi pangan?
Tentu banyak hal mesti kita perhatikan kebijakan lokal, kearifan lokal, yang sudah dimiliki bangsa ini. Kearifankearifan itu mesti kita gali lagi lantas kita terapkan sehingga menjadi budaya makan Indonesia yang aman.
Kebetulan saya sedang menyiapkan tulisan sendiri soal budaya makan. Saya mengawalinya dengan membahas terlebih dahulu apa itu budaya Indonesia. Saya mencoba menggali semua adat daerah sehingga akan ketemu bagaimana budaya membikin makanan yang aman dikonsumsi. Ternyata hal itu banyak sekali.
Dalam penggalian itu saya ketemu budaya yang tabu, dalam arti tak boleh diterapkan, dan budaya yang harus diterapkan. Itulah bukti bahwa manusia juga harus berbudaya. Dahulu kita tahu kalau Jenderal Hoegeng jatuh dari posisi Kapolri karena menganjurkan agar orang memakai helm saat mengendarai motor. Itu merupakan salah satu upaya untuk menciptakan budaya aman saat berkendaraan di jalan.
Saat ini kita sudah melihat hasilnya, semua pengendara motor menggunakan helm. Saya pun berpikir bagaimana membangun sebuah kebiasaan menyajikan makanan secara aman sehingga akan terbentuk budaya makan yang aman. Mencuci tangan sebelum makan, misalnya, mesti dibudayakan karena di tangan kanan kita, setelah saya teliti, ada satu setengah juta bakteri per sentimeter persegi. Kalau cuci tangan sudah menjadi budaya, bangsa ini akan lebih sehat. Ini salah satu persoalan yang ada. Kelak setelah cara-cara hidup sehat sudah menjadi budaya kita tidak akan perlu lagi merumuskannya dalam peraturan. (WI/Donny Iswandono)

Kick Off Gerakan Bangsa Pembaharu


Jakarta, 10 November 2012. Ashoka Indonesia hari ini mengumumkan peluncuran Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu untuk memperingati 30 tahun Ashoka dan kewirausahaan sosial di Indonesia. 12 penerima penobatan Ashoka Social Entrepreneur 2012 atas dedikasi dan karya-karya inovasi sosial bagi perubahan di Indonesia, menandai dimulainya gerakan ini.
“Kekerasan antar pelajar, konflik suku dan agama, korupsi dimana-mana, adalah sebagian dari headline media di Indonesia akhir-akhir ini”, kata Mira Kusumarini, Direktur Ashoka Indonesia. Menurutnya, untuk menjawab banyaknya tantangan bangsa, termasuk terhadap perkembangan ekonomi baru dunia, Indonesia perlu menumbuhkan lebih banyak lagi wirausahawan sosial dan pembaharu-pembaharu masyarakat, memfasilitasi mereka hingga dampak sosial dapat berkembang dan menyebar luas. Selama lebih dari 30 tahun, para wirausahawan sosial telah membuktikan bahwa tidak ada praktik dan ketrampilan yang lebih mendasar dari sosok seorang pembaharu. Dan empatilah yang menjadi akar perubahan sosial, sebuah nilai yang memungkinkan setiap orang menjadi pembawa perubahan. Karenanya penting bagi setiap institusi, mulai dari keluarga, sekolah, perusahaan hingga negara, mengintegrasikan empati sebagai prinsip dasar terjadinya perubahan ekonomi dan sosial bangsa.
Untuk membangun gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu, Ashoka mengajak setiap orang –siapapun dan dimanapun untuk menjadi pembaharu bagi masyarakat. Di dalam acara peluncuran hari ini, contoh-contoh konkrit pembaharu Indonesia termasuk social entrepreneur, pembaharu muda, guru dan sekolah pembaharu, perusahaan pembaharu mengungkap pengalaman dan kiat mereka menumbuhkan pembaharu-pembaharu Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa menumbuhkan pembaharu itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja baik individu, lembaga sosial atau perusahaan, di tingkat lokal, nasional atau global. Semua dimulai dari empati yang diwujudkan dalam prakarsa-prakarsa sosial yang berkesinambungan.
Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu mengkampanyekan penumbuhan pembaharu masyarakat melalui “Ayo Jadi Pembaharu” dan mengundang mereka bergabung dalam komunitas pembaharu online www.changemakers.com/innovations untuk dapat terekspos dan berpeluang mengembangkan gagasan dan dampak sosial. Melalui kampanye “Sepuluh Ribu untuk Satu Pembaharu” Gerakan mengajak dermawan dan investor sosial untuk mendonasikan Rp 10.000 per satu pembaharu yang telah ditumbuhkan oleh para social entrepreneur, pembaharu muda, guru atau sekolah pembaharu, atau pembaharu masyarakat lainnya. Kompetisi online, publikasi seri inovasi, rangkaian kegiatan sepanjang tahun oleh lembaga penumbuh pembaharu di seluruh Indonesia akan menjadi bagian upaya membangun gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu yang dapat diakses di www.bangsapembaharu.com. Hingga September 2013, diharapkan Indonesia sudah bisa menumbuhkan satu juta pembaharu masyarakat.
Menandai dimulainya Gerakan Indonesia Bangsa Pembaharu, penobatan pembaharu Indonesia sebagai Ashoka Social Entrepreneur tahun 2012, diberikan kepada:
  1. Bambang Suwerda  – Bank Sampah bagi pengolahan limbah dan peningkatan ekonomi
  2. Deka Kurniawan – Terapi dan pendidikan bagi anak autis dhuafa
  3. Dian Wahdini Syarief – Sistem pendukung bagi orang hidup dengan penyakit autoimun dan low vision
  4. F.G. Winarno  – Infrastruktur baru bagi produksi pangan yang aman dan kesempatan kerja lokal dalam industri pengolahan pangan
  5. Harry Suliztiarto – Sistem keamanan bagi pekerja di ketinggian
  6. Hokky Situngkir – Objektivitas ilmu pengetahuan bagi gerakan budaya nasional
  7. John Rahail – Pra-sekolah berbasis budaya tradisional yang membuat pendidikan menjadi relevan
  8. Lynna Chandra – Sistem nasional asuhan paliatif anak berbasis rumahan
  9. Mohammad Alhabsyi – pendekatan kolaboratif pemerintah dan masyarakat untuk pencegahan malaria
  10. Paris Sembiring – Bank Pohon untuk konservasi dan peningkatan ekonomi
  11. Samsurijal Djauzi – Pendekatan komprehensif untuk diagnosis, pengobatan, dan pencegahan HIV / AIDS
  12. Vinsensius Nurak – Pengolahan lahan kering dan terdegradasi menjadi penghasil pangan sepanjang tahun dan penumbuh ekonomi lokal.
Tersaring dari lebih seratus nominasi, dengan 5 kriteria seleksi (1) Kebaruan gagasan (Inovasi social) (2) Tingkat Kreativitas (3) Kualitas Kewirausahaan (4) Dampak sosial (5) Etika, para social entrepreneur telah mengikuti 5 tahapan seleksi, termasuk (1) Penominasian, (2) Peninjauan Staff, (3) Peninjauan Opini Kedua, (4) Seleksi Panel, (5) Keputusan Akhir oleh Board Internasional. Dukungan finansial dan non-finansial diberikan supaya apa yang telah diprakarsai dapat berkesinambungan sehingga dampak sosial dapat menyebar dan meluas.

Mengenai Ashoka: Pembaharu bagi Masyarakat
Ashoka adalah asosiasi global para wirausahawan sosial terkemuka. Ashoka membantu mereka mulai dan mencapai keberhasilan dalam mengupayakan perubahan pola berskala besar yang sangat diperlukan. Para wirausahawan sosial berkarya di berbagai bidang kebutuhan manusia – dari hak azasi manusia hingga lingkungan, dari hak ekonomi hingga pemberdayaan anak muda. Investasi awal yang kecil memproduksi hasil yang luar biasa. Lima tahun setelah peluncuran, antara 49 hingga 60 persen telah mengubah kebijakan nasional dan sekitar 90 persen lembaga lain meniru inovasi mereka. Bersama para wirausahawan sosial ini Ashoka membangun komunitas inovator yang bekerja sama mengubah masyarakat, dan merancang cara baru agar sektor sosial menjadi semakin produktif, entrepreneurial, dan terintegrasi secara global. Kini lebih dari 2000 wirausahawan sosial terkemuka Ashoka tersebar di lebih dari 70 negara dan 165 diantaranya di Indonesia. Fellowship global Ashoka didanai oleh sektor swasta baik individu, jaringan usaha, yayasan, dan wirausahawan bisnis terkemuka.
www.ashoka.or.id | www.ashoka.org  | www.changemakers.net

media

Berita Video

video

Donate

 
Original Design by Ashoka Indonesia Modified by Ido