SMP, Paris Sembiring (45) tak lulus. Mulai dari buruh, loper koran, petani sampai tukang becak, pernah dia jalani. Namun, keisengannya mengumpulkan buah mahoni sembari menunggu penumpang becaknya puluhan tahun lalu berbuah manis. Kini, dia salah satu peraih penghargaan Kalpataru 2003 kategori Pembina Lingkungan. Pemerintah menghargai usahanya memelopori pelestarian lingkungan hidup di Medan dan sekitarnya.
Apa yang membuat Anda memperoleh penghargaan Kalpataru? Entah, ya. Selama ini, saya ikhlas bekerja, ngasih bibit gratis dan pelatihan pada yang membutuhkan. Tapi rupanya saya dianggap sebagai pembina lingkungan hidup yang siap memberi informasi tentang melestarikan lingkungan pada masyarakat.
Bagaimana mulanya Anda tertarik pada lingkungan? Saya kerap berteduh di bawah pohon mahoni yang memang banyak tumbuh di sejumlah ruas jalan di Medan, seperti Jl. Sudirman, J. S. Parman. Pokoknya, tempat becak saya mangkal. Dari tahun 1978 - 1982, saya memang penarik becak. Sambil menunggu penumpang, saya rajin mengutip buah dan biji mahoni yang jatuh. Lalu, saya bawa pulang ke rumah kontrakan untuk disemaikan jadi bibit.
Bibit itu bisa berkembang? Ya. Lalu, saya bagikan ke tetangga. Mau ditanam di pekarangan atau kebun, terserah mereka. Lama-kelamaan, bukan cuma mahoni yang saya bibitkan, tapi juga meranti dan beringin yang bisa hidup di daerah bebatuan.
Anda mengambil bibit dari mana saja? Sebagian bibit saya kumpulkan dari hutan, tapi ada juga yang diberi kenalan saya.
Kegiatan mengutip buah mahoni ini terhenti sejak Paris tak lagi menarik becak. Pekerjaan ini dia tinggalkan karena pada 1981 Pemkot Medan melarang becak memasuki tengah kota. Sebagai gantinya, dia buka warung kopi di kawasan Padang Bulan, Medan.

Apa yang terjadi? Awal menuai, tak semulus yang diharapkan. Ternyata, jadi petani itu sangat memprihatinkan. Pendapatan pas-pasan. Yang paling sulit, waktu keluarga sakit karena biaya berobat sangat mahal. Tapi justru itu yang mendorong saya kerja lebih keras lagi, meskipun, kegagalan masih harus saya hadapi.
Saya makin semangat saat teringat nasihat orang tua yang bilang bahwa manusia hanya bisa menabur dan Tuhanlah yang menentukan hasil tuaian. Nasihat itu yang sampai kini terus mendorong hidup saya. Saat itu, saya terpikir untuk membuat penangkaran benih. Saya mulai dari beberapa jenis bibit. Tak disangka, jumlah bibit di lahan penangkaran makin banyak, hanya dalam waktu tak terlalu lama.
Penangkaran benih itu apa? Penangkaran benih adalah kegiatan memproduksi tanaman, mulai dari biji dibuat kecambah, disemai, ditabur, diokulasi dan dienten lantas kita unggulkan dan dijual. Ada juga yang sampai berbuah. Orang yang menangkarkan disebut penangkar benih. Di Sumut, jumlah penangkar benih sekitar 400 orang.
Mereka tergabung dalam Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta). Untuk periode 2002 2005, saya ditunjuk sebagai ketua. Banyak yang mau jadi penangkar benih, lho, tidak hanya dari Sumatera saja, tapi juga dari Irian. Orang yang dulu membantu saya menangkar, banyak yang kini jadi penangkar. Rencananya, bulan Agustus ini kami akan mengadakan pameran lingkungan.

Punya tanaman langka dan obat tradisional? Ya. Tanaman langka misalnya sawo duren, sirsak kuning, kedondong hutan, tualang dan nona. Sedangkan tanaman obat antara lain salam, tapak liman, sosor/cocor bebek, daun kuping macan, encok, mahkota dewa, tebu merah dan lain-lain.
Khusus tanaman obat tradisional Karo, saya berhasil melestarikan 16 jenis tanaman. Salah satu diantaranya dikenal masyarakat sebagai obat yang berkhasiat menambah stamina, yaitu gagaten harimau (Ampelocissus Thyrsiflorae). Selain itu, saya juga punya tanaman buah dan hias yang dibuat dalam polybag.
Saat Paris tengah diwawancara, Nursity Br Tarigan, istrinya, datang dan mendampingi suaminya.
"Inilah istri saya. Saya sangat mengaguminya. Dialah yang banyak membantu saya selama ini di kebun. Semoga Tuhan tetap memberkatinya," ujar Paris.
No comments:
Post a Comment